Bibit durian hasil sambung pucuk

Bagi anda yang hobi menanam tanaman buah, terutama tanaman buah Durian Jenis Monthong alangkah baiknya anda pelajari tulisan yang sederhana ini. Saya tertarik untuk menanam jenis durian ini karena berumur Genjah (cepat berbuah), dengan bentuk batang tidak terlalu tinggi.


Durian yang paling banyak dibudidayakan secara monokultur dalam skala komersial adalah monthong. Varietas ini diintroduksi dari Thailand dan telah dirilis oleh Menteri Pertanian dengan nama Si Otong. Kelebihan monthong adalah, daging buahnya sangat tebal, bijinya kecil bahkan kempes, aromanya tidak kuat (yang justru disukai kosumen asing), dan daya tahan kulitnya cukup tinggi. Disimpan dalam suhu kamar selama satu minggu pun, ujung buah yang telah masak ini tidak akan mau merekah. Sementara durian lokal kita yang telah tua, disimpan dalam bagasi mobil selama sehari saja sudah merekah ujungnya. Monthong juga memiliki daya adaptasi agroklimat yang sangat luas.


Namun di samping segala kehebatan monthong tersebut, ada pula kelemahannya. Kelemahan utamanya adalah, varietas ini sangat tidak tahan terhadap penyakit pytopthora. Penyakit ini terutama akan menyerang bekas sambungan mata tempel. Sambungan ini, letaknya sangat dekat dengan pangkal batang hingga mudah sekali tercemar percikan air hujan. Sambungan yang sangat berdekatan dengan pangkal batang ini, disebabkan oleh waktu penyambungannya yang hanya berselang satu bulan semenjak biji disemai. Tujuannya untuk mempercepat lakunya benih durian.
Para penangkar benih kita, biasa menyemai biji durian yang disebut pongge di polybag maupun di lahan sawah. Selang satu bulan sejak biji disemai, langsung dilakukan penyambungan dengan mata tunas, persis pada daun pertama semai tersebut. Dengan cara ini, pada umur tiga bulan, benih durian sudah bisa dipasarkan. Namun kelemahannya, bekas sambungan yang terlalu dekat dengan pangkal batang ini akan mengakibatkan pekanya tanaman terhadap pytopthora. Serangan pytopthora ini biasanya baru akan muncul ketika tanaman berumur antara 5 sd. 6 tahun, yakni pada saat mulai berbuah.


Patani Thailand, dulunya juga melakukan penyambungan dini demikian. Ketika tanaman mereka terserang pytopthora, mereka memberinya tiga kaki. Caranya, di sekitar pangkal batang itu mereka tanam tiga batang pohon pangkal yang sudah cukup besar, lebih kurang setinggi 1,5 m. Penanaman pohon pangkal ini diatur hingga membentuk segitiga sama sisi di sekeliling batang durian. Setelah tumbuh baik, bagian ujung dari tiga batang pohon pangkal ini disambungkan ke batang utama tanaman. Biasanya serangan pytopthora akan mematikan pohon durian. Namun tanaman durian petani Thailand ini akan terselamatkan, sebab meski batang utamanya telah mati, sekarang dia justru mempunyai tiba batang (kaki) yang berfungsi menggantikan batang utama yang mati tadi.
Untuk selanjutnya, petani Thailand tidak bersedia melakukan penyambungan dini. Mereka justru melakukan penyambungan setelah benih durian setinggi minimal 1 m. Banyak penangkar benih di Thailand yang malahan menyambung benih mereka ketika tingginya sudah mencapai 1,5 m. Penyambungannya pun bukan mereka lakukan di pesemaian, melainkan langsung di lahan budidaya. Caranya, sejak awal mereka menanam batang bawah dengan pola seperti menanam benih yang telah tersambung. Setelah tanaman tumbuh baik, dilakukanlah penyambungan dengan sambung pucuk. Bukan dengan sambung mata tempel.
Kelebihan sambung pucuk adalah, kualitas batang atas akan menjadi cukup baik. Selain itu bekas sambungan juga akan membentuk permukaan kulit batang yang halus, bukan berupa benjolan seperti pada penyambungan dengan mata tempel. Salah satu syarat untuk bisa melakukan penyambngan dengan pucuk ranting adalah, harus tersedia pohon induk batang atas dalam jumlah yang cukup banyak. Sebab kebutuhan pucuk untuk penyambungan adalah satu ranting untuk satu benih. Sementara dengan mata tempel, satu ranting batang atas bisa digunakan untuk menyambung belasan benih. Di Thailand, tidak ada lagi penangkar benih durian yang menyambung dengan mata tunas. Semuanya menggunakan pucuk ranting. Sebab di sana, populasi pohon induk sebagai batang atas cukup banyak.
Penangkar kita masih menggunakan mata tunas untuk menyambung benih. Sebab di sini, populasi pohon induk masih sangat terbatas. Bahkan pohon induk yang masih belum pernah berbuah pun, sudah diambil entresnya untuk disambungkan di batang bawah. Sentra penangkaran benih yang stok batang atas monthongnya cukup adalah di Pekalongan, Lampung. Di sini ada Balai Benih Induk yang memiliki batang atas monthong tanaman tahun 1970an (umur di atas 30 tahun) sebanyak sekitar 300 pohon. Hingga ketersediaan entres di sentra penangkaran di Lampung ini sangat terjamin. Namun tetap saja para penangkar di sini masih menggunakan mata tunas untuk penyambungan. Bukan menggunakan pucuk ranting.
Kelemahan lain dari benih durian yang beredar di pasaran adalah, kualitas batang bawahnya juga tidak ketahuan. Para penangkar benih durian di Jabotabek, umumnya mengumpulkan biji durian dari para penjual durian kakilima. Biasanya para penggemar durian di Jakarta malas untuk membawa pulang durian yang mereka beli di kalilima. Untuk amannya, mereka cenderung minta dibukakan di tempat. Kalau bagus dibayar, kalau busuk atau mentah tidak dibayar. Biji-biji durian inilah yang kemudian dikumpulkan dan ada pihak yang menampungnya untuk disetorkan ke penangkar benih. Dengan biji yang berasal dari bermacam durian ini, bisa kita bayangkan betapa beragamnya kualitas batang bawah nantinya.
Idealnya batang bawah durian menggunakan varietas yang perakaran dan batangnya kuat, sudah berumur tua dan buahnya lebat meskipun ukurannya kecil-kecil. Syarat lain adalah, ponggenya haruslah cukup besar ukurannya. Para penangkar benih di Thailand, umumnya menggunakan batang bawah chanee yang dikenal bandel dan tahan kekeringan. Di Indonesia, kita bisa menggunakan batang bawah durian lokal yang cukup baik kulitasnya. Untuk berburu durian lokal calon batang bawah ini, para penangkar biasa datang ke sentra-sentra durian, kemudian memborong buah langsung di pohonnya. Biji dari buah pohon pilihan inilah yang sangat ideal untuk digunakan sebagai batang bawah nantinya.
Kelebihan batang bawah dari pohon pilihan ini adalah, jenisnya pasti seragam. Hingga pertumbuhan benih nantinya juga bisa serentak. Kedua, kualitas batang bawahnya juga ketahuan, sebab kita sudah melihat sendiri, bagaimana kondisi tanaman durian tersebut. Ketiga, kita bisa menangani biji durian tersebut sebaik mungkin. Sebab biji “sapuan” istilah yang digunakan oleh para penangkar untuk biji durian dari pedagang kakilima, kondisinya bisa saja sudah memar-memar atau terinjak-injak kaki. Biji yang sejak awal kita tangani, bisa dijaga agar tetap utuh dan tidak cacat.
Setelah daging buahnya dimakan, biji-biji durian yang seragam karena berasal dari satu individu tanaman itu, selanjutnya dicuci bersih dan diangin-anginkan. Setelah biji itu kering, segera disemai. Penyemaian paling ideal dilakukan langsung dalam polybag. Media polybag berupa tanah dengan campuran kompos, pupuk kandang dan sekam kotoran ayam broiler. Dalam jangka waktu antara 5 hari sd. 1 minggu, semai akan tumbuh. Selang satu bulan, ketika tumbuh daun pertama, para penangkar akan melakukan penyambungan dengan mata tempel. Kalau kita ingin kualitas benihnya baik, maka semai ini tetap kita biarkan di polybag tanpa disambung terlebih dahulu.
Biasanya penyemaian biji durian di Jawa, dilakukan pada bulan-bulan Desember sd. Januari. Pada bulan Februari sd. Maret, dilakukan penyambungan dengan mata tempel. Bulan-bulan Mei sd. Juni, benih sudah bisa dipasarkan untuk ditanam pada awal musim penghujan nanti. Namun pada awal musim penghujan, benih-benih itu baru setinggi 50 cm. hingga masih belum terlalu kuat untuk ditanam di lokasi lahan. Para pekebun yang menginginkan benih kualitas baik, tetap memelihara semai batang bawah itu sampai dengan bulan November. Tinggi semai batang bawah yang belum disambung ini, sudah mencapai sekitar 1 m. karena tidak mengalami stagnasi penyambungan.
Karena dipindah langsung dari polybag dan ketinggiannnya sudah mencapai 1 m, benih batang bawah ini akan cepat sekali pertumbuhannya. Pada bulan-bulan Juni dan Juli, tanaman batang bawah yang sudah berada di lahan ini bisa mencapai ketinggian sekitar 1,5 m. Pada saat itulah dilakukan penyambungan dengan tunas pucuk. Kalau penyambungan ini gagal, bisa diulang lagi pada bulan berikutnya (Agustus atau September). Penyambungan pada musim kemarau tingkat keberhasiannya akan lebih tinggi, sebab getah tanaman relatif pekat, serta tidak akan terganggu guyuran hujan.
Tanaman yang sudah tersambung pada bulan-bulan Juli ini, ketika musim penghujan datang akan sangat pesat pertumbuhannya. Hingga pada umur empat tahun sejak tanam di lahan (lima tahun sejak semai), tanaman durian akan mulai berbunga. Dengan penyambungan langsung di lahan setinggi 1,5 m. ini, beberapa keuntungan bisa diperoleh. Pertama, batang bawah sudah relatif kuat karena sudah tertanam di lahan. Kedua apabila terjadi kegagalan, bisa dilakukan penyambungan tahap dua dst. Yang ketiga, tanaman durian monthong kita nantinya akan relatif lebih tahan terhadap serangan pytopthora.

Pos ini dipublikasikan di Durian dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s